We Should Have Forgotten

we should have forgotten

We Should Have Forgotten

“Nda, ada yang nyariin kamu.”

Aku menghentikan tanganku yang baru akan memasukkan kotak pensil kedalam tas. Bel pulang sekolah baru saja berdering. Semua orang sudah berhambur keluar kelas, kecuali aku yang masih membereskan barang-barangku yang berserakan diatas meja. Setelah mendengar seruan seorang temanku, aku otomatis menoleh kearah pintu kelas. Di balik pintu itu terdapat seorang lelaki yang sedang menghadapkan punggungnya kearahku.

Sebenarnya tanpa melihat wajahnya—hanya melihat punggungnya—saja, aku bisa mengetahui siapa lelaki di balik pintu kelas itu. Hanya saja aku tidak berani memikirkan lebih jauh dari itu.

Setelah memasukkan seluruh barang-barangku ke dalam tas—aku menambah kecepatan tanganku hingga 5x lipat—aku segera melangkah ke depan kelas untuk menghampiri orang itu

.

“Hai,” sapaku. Jujur, aku tidak pernah seramah ini.

Lelaki itu mengerutkan dahinya, “Kamu ga enak badan?” tanyanya merasa aneh.

“Okelah terserah kamu,” ucapku acuh tak acuh. Moodku yang ingin menjadi ramah lenyap sudah. “Terus kenapa kamu kesini? Kenapa ke kelas aku?”

Lelaki itu membalas dengan senyuman jahil. Oh Tuhan, jika saja senyuman itu bisa dengan mudah membuatku membencinya, aku akan melakukannya! Bila saja dengan senyuman itu bisa merubah semuanya. Bila saja dengan senyuman itu bisa membuatku melupakan kenyataan. Bila saja—

“Ga jelas!” sahutku memotong jalan pikiranku yang—oke—memang sudah berlebihan. Aku pergi melewati lelaki itu, ya walau aku tahu, pada akhirnya dia akan mengikutiku.

“Anter main yuk,” ucap lelaki itu sambil berusaha menyamakan langkahnya dengan langkahku.

Aku terhenti dan berbalik kearahnya sambil mengerutkan dahi. “Aku ga salah dengar?”

“Kenapa emangnya?”

Aku mendesah seolah tak percaya, “Aku pikir kamu anak yang berusia 17 tahun. Tapi ternyata aku benar..” sahutku dan pergi begitu saja meninggalkan lelaki itu yang masih kebingungan.

Aku langsung mengeluarkan sepedaku begitu tiba di parkiran sepeda. Tanpa menunggu apapun, aku langsung bergegas keluar dari gedung sekolah.

Jalanan menuju rumah memang di kelilingi oleh pepohonan juga ladang rumput hijau di pinggir jalan. Kadang, jika aku kelelahan menaiki tanjakan-tanjakan ini, aku selalu berhenti di salah satu ladang rumput sambil menunggu matahari terbenam. Sama persis seperti yang akan aku lakukan hari ini. Biasanya aku akan kesini jika aku mengalami suatu masalah. Ya, aku selalu menumpahkannya disini. Sendiri, hanya aku.

Aku memarkir sepedaku di samping pohon besar. Pohon yang sudah bertahun-tahun menjadi parkiran sepedaku. Aku terduduk sambil menyandarkan tubuhku pada pohon besar itu sambil sesekali menghela napas. Aku melihat pemandangan di depanku. Benar saja, dengan menghirup udara di bawah pohon ini, hatiku kembali tenang. Aku bisa kembali melihat dengan jelas. Aku bisa kembali melihat langit yang mulai berubah warna. Aku—

“Nda…”

Aku tersentak dan segera menoleh ke belakang. Aku melihat lelaki itu sedang mengayuh sepedanya dengan susah payah kearahku. Sesaat aku hanya bisa memerhatikannya tidak percaya. Aku tahu dia mengikutiku dari sekolah, tapi aku tidak menyangka dia akan sanggup mengikutiku sampai disini.

“Nda ! Cepet banget sih gowes sepedanya.”

Aku melihat lelaki itu memarkirkan sepedanya di samping sepedaku, lalu dia berjalan gontai kearahku. Setetes keringat mengalir melalui pipinya. Bahkan seragam putih yang dia kenakan itu sudah basah kuyup karena keringat dan itu terlihat… keren! Oh tidak—Hentikan!

Aku mengerjapakan mata, berusaha untuk menjernihkan kembali pikiranku karena keringat sialan itu!

“Kamu marah sama aku, Nda?”

Aku terdiam. Sama sekali tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan lelaki itu. Aku hanya memandang lurus kedepan. Tanpa seizinku, lelaki itu sudah duduk disampingku. Aku yang menyadarinya segera bergeser untuk menjauh darinya. Aku rasa lelaki itu menyadari sikap dinginku, tapi dia hanya terdiam sambil memerhatikanku.

“Awalnya aku mau cerita sama kamu,” ucap lelaki itu, “Aku pengen kamu yang pertama tahu soal ini.”

Aku mungkin mengerti maksud lelaki itu. Atau akupun tidak mengerti maksudnya.

“Terserah kamu mau denger atau nggak,” lanjut lelaki itu, “Aku udah janji, kalau kamu bakal jadi orang pertama yang tahu hal ini.”

Aku masih tidak ingin melihat wajahnya. Aku juga harusnya tidak ingin mendengar ceritanya.

“Aku udah jadian sama Rara, Nda.”

Sial!

Ya, sudah ku bilang, aku harusnya menolak lanjutannya. Aku harusnya tidak mendengar lanjutannya. Aku harusnya menghentikannya. Dia harusnya tidak membuat tempat ternyamanku, menjadi tempat terburuk di dalam hidupku. Dia harusnya—

Belum selesai aku memakinya di dalam hati, setetes air mata sudah bergulir melewat batang hidungku. Aku baru tahu, ternyata memaki akan membuat seseorang menangis. Dia harusnya tahu jika aku tidak ingin mendengarnya.

“Nda, kamu ada masalah? Kamu baik-baik aja?”

Awalnya tadi aku tidak ingin menjawab ucapan lelaki itu karena aku kesal. Tapi sekarang aku tidak yakin, apa aku bisa menjawab pertanyaan? Aku takut dia melihat perubahan mataku. Aku takut dia melihat wajah menyedihkanku. Jujur saja, saat ini aku hanya ingin pergi. Aku hanya ingin menghindari tatapannya.

“Aku turut senang, Re,” sahutku seadanya. “Kamu udah selesai cerita? Aku pergi dulu ya. Udah sore.”

Aku cepat-cepat bangkit dan langsung menaiki sepedaku. Tanpa menghiraukan laki-laki itu, aku mengayuh sepedaku dengan cepat.

Ibu bilang perasaan remaja sepertiku masih labil. Ibu bilang perasaan di dalam hati anak remaja sepertiku kapanpun bisa berubah. Bisa jadi, perasaan Re berubah pada perempuan itu dan perasaanku juga bisa berubah pada Re.

Hati manusia sudah ada yang memiliki. Aku memercayai kata-kata ibu 5 tahun kemudian. Aku sudah lulus SMA. Sejak kejadian itu juga, aku sama sekali tidak berbicara pada Re. Aku selalu mencoba menghindarinya. Aku hanya merasa… jika aku akan hancur jika di dekatnya. Aku hanya tidak ingin itu terjadi.

Saat itu aku baru keluar dari minimarket—dengan seorang keponakanku—ketika tanpa sengaja aku melihat Re sedang membeli soft drink di café depan. Sejenak kita hanya diam saling berpandangan seperti ini. Itu sudah terlalu lama sejak kejadian itu. Itu sudah 5 tahun…

Kami memutuskan untuk berbicara sebentar di café depan minimarket. Awalnya suasana masih terasa canggung antara kami. Jujur saja, aku merindukan masa-masa dimana kita selalu bercanda. Masa-masa dimana tidak ada yang menyakiti maupun tersakiti. Masa-masa dimana kita masih bodoh dalam perasaan kita. Aku merindukan itu.

“Nda…”

“Re, aku…”

Aku dan lelaki itu terbelalak. Aku sendiri tidak menyangka suasana aku secanggung ini.

“Kamu duluan,” ucap Re.

Aku menurut dan melanjutkan ucapanku yang sempat terpotong tadi, “Re, aku… minta maaf.”

Sepertinya Re sudah tahu apa yang akan aku katakan. Posisinya masih terlihat tegak tapi santai. Raut wajahnya pun tidak berubah.

Aku memberanikan diri untuk melanjutkan ucapanku, “Aku hanya…”

“Cemburu?” sahut Re.

Aku terbelalak. Aku benar-benar terkejut. Re tahu? Re sudah tahu soal itu? Aku mencoba mengontrol ekspresi wajahku sendiri dan berusaha setenang mungkin. “Ya, dulu aku hanya cemburu.”

Perlu di garis bawahi. Dulu.

Re tersenyum. “Kamu tahu, kenapa aku putus sama Rara?”

Aku kembali terbelalak. “Kamu putus?” Dulu Re pernah mengatakan padaku, jika sudah lulus nanti, dia akan segera melamar Rara. Karena itu, saat aku tahu mereka jadian, aku merasa tidak memiliki kesampatan apapun lagi.

Tapi sepertinya Re tidak mengindahkan pertanyaanku, karena dia terus melanjutkan perkataannya, “Karena aku baru sadar… kalau kamu cemburu. Makanya saat kamu ngejauhi aku, aku merasa frustasi. Aku nyoba ngomong sama kamu, tapi kamu ngehindar. Jadi, aku frustasi.”

Aku masih terdiam di tempat. Masih tidak percaya. Jadi, Re putus dengan Rara karena aku?

Untuk beberapa saat, kita hanya terdiam seperti ini. Andai masih ada kesempatan kedua. Andai masih dapat terulang. Aku benar-benar akan mencobanya. Aku benar-benar akan mengulangnya lagi. Tapi…

“Kamu datang terlambat, Re…” ucapku yang berhasil membuat Re membelalakkan matanya. Re melihat anak yang sedang aku pangku dan bertanya padaku hati-hati.

“Anak kamu, Nda?”

Aku menggeleng sambil mengambil surat undangan dari dalam tasku, “Ini, Re. Minggu depan aku nikah. Aku harap kamu bisa datang, Re.”

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana ekspresi Re sekarang. Aku bahkan tidak yakin bisa memasang wajah tegar dalam situasi seperti ini. Hatiku juga hancur. Aku pikir, aku bisa sepenuhnya pergi dari masa laluku. Ternyata aku hanya 10% pergi dari masa itu.

Aku ingin menangis. Aku benar-benar ingin menangis. Wajah Re masih belum menjelaskan apapun. Tatapan matanya masih tertuju pada undangan yang tergeletak di atas meja. Seolah percaya atau tidak, kita tidak mungkin bisa bersatu lagi. Kita hanya akan menjadi kerabat masa lalu semasa SMA.

Sepertinya Re sudah mendapatkan kembali kesadarannya. Ia melihatku dengan tatapan serba salah. Senyuman cerahnya bahkan telah lenyap. Aku benar-benar menangis sekarang.

Awalnya dia meninggalkanku, lalu dia datang lagi, sekarang aku yang pergi.

“Aku terlambat ya, Nda? Harusnya aku maksa kamu buat ngobrol waktu itu, walau aku tahu kamu pasti bakal lebih marah,” ucapnya sambil tersenyum seolah di paksakan. “Selamat ya. Aku turut bahagia.”

Apa aku bisa yakin hatinya lebih hancur dariku?

“Makasih ya, Re.” Aku tidak bisa menghentikan air mataku walau aku juga ingin.

“Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu selama ini,” lanjutnya, “Ternyata kebahagiaan kamu bukan sama aku.”

Mungkin inilah puncak kesedihanku. Inilah puncak emosiku. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Re pun mungkin seperti itu. Mungkin juga dia merasa, tidak ada yang bisa dia lakukan untukku lagi. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain pasrah.

“Kamu juga cepat nyusul ya, Re,” ucapku sambil menahan isak.

Seminggu setelah pertemuanku dengan Re. Seluruh sahabat terdekat semasa SMAku, berkumpul kembali. Re datang ke pernikahanku dengan kebahagiaan. Dia juga menyapa kedua orangtuaku. Kita merasa bahagia saat itu. Seolah kita melupakan apa yang telah terjadi selama ini.

Aku juga berdoa agar Re selalu mendapat kebahagiaan. Ya, tidak ada yang bisa kita lakukan selain saling melupakan.

Aku Aninda Budiarto. Inilah kisahku dengan Reonald Damayudha.

***

END

Kalijati, 23-09-2015 _ 20:58 PM

https://www.wattpad.com/myworks/50398665-we-should-have-forgotten

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s